Rabu, 01 Desember 2010

GAMBARAN WATAK MANUSIA



السـلام عليكم ورحمة الله وبركاته
إن الحمد لله, نحمده ونستعينه ونستغفره, ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا. من يهده الله فلا مضل له, ومن يضلل فلا هادي له. أشهد أن لآاله إلاالله وحده لاشريك له, وأشهد أن محمدا عبده ورسوله لانبي بعده. اللـهم صل وسلم وبارك على سيدنا ومولانا محمد وعلى آله وأصحابه ومن تبعه ومن والاه. أما بعد:    
فيآأيها النهاس: اوصيكم ونفسي بتقوى الله. واتقواالله حق تقاته ولاتموتن إلا وأنتم مسلمون.
Hadirin, jama’ah Shalat Jum’at Rohimakumullah.
Melalui mimbar yang mulia ini saya berwasiat kepada diri saya khususnya dan kepada jamaa’ah untuk selalu meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah Swt. kapanpun dan di manapun kita berada. Taqwa dengan makna yang sebenarnya yaitu dengan melaksanakan segala bentuk perintah-Nya dan dengan menjauhi sejauh-jauhnya segala macam larangan-Nya.
Hadirin, jama’ah Shalat Jum’at Rohimakumullah.
Di dalam Al Quran Allah Swt menggambarkan manusia dengan berbagai macam sifat dan watak serta kelakuan. Diantaranya dikatakan bahwa :
1.  Manusia bersifat tergesa-gesa (QS. Al Isra; 11)
ويدع الإنسن بالشر دعآءه بالخير وكان الإنسن عجولا
Artinya :      Dan manusia mendoa untuk kejahatan sebagaimana ia mendoa untuk kebaikan. dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.
Ketika manusia ditimpa dengan kesusahan dia meminta agar segera dibebaskan dari kesusahannya. Sebaliknya ketika manusia menginginkan kebaikan ia ingin kebaikan itu segera menghampirinya.
2.  Manusia bersifat suka membantah (QS. Al Kahfi ; 54)
ولقد صرفنا فى هذا القران للناس من كل مثل وكان الإنسن أكثر شيئ جدلا
Artinya :      Dan Sesungguhnya kami Telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al Quran Ini bermacam-macam perumpamaan. dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah.




Hadirin, jama’ah Shalat Jum’at Rohimakumullah.
Dalam kehidupan di dunia ini manusia akan selalu berada di dalam salah satu dari dua kondisi, bahagiakah dia ataukah sengsara, kayakah dia atau miskin, senangkah dia atau susah. Ketika kita berada dalam keadaan yang susah, sengsara, rumit, kita berdo’a dan memohon kepada Allah Swt agar segera dikeluarkan dari kondisi yang sedang kita alami. Kita berdo’a siang dan malam, pagi dan sore, dan bahkan dalam setiap keadaan kita selalu meminta agar dibebaskan dari keadaan yang tidak kita inginkan. Tetapi ketika kesusahan itu, kesengsaraan itu, dan kesulitan itu telah dihilangkan oleh Allah SWT. dari diri kita, kita kembali melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT. Seakan-akan kita tidak pernah berdo’a, seakan-akan tidak pernah meminta kepada Allah SWT untuk dikeluarkan dari kondisi yang pernah kita alami. Hal ini seperti yang digambarkan oleh Allah SWT di dalam QS. Yunus ; 12
وإذا مس الإنسن الضر دعانا لجنبه أوقاعدا أوقآئما فلما كشفنا عنه ضره مر كأن لم يدعنا الى ضر مسه كذلك زين للمسرفين ماكانوا يعملون
Artinya : Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada kami untuk (menghilangkan) bahaya yang Telah menimpanya. begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.

Hadirin, jama’ah Shalat Jum’at Rohimakumullah.
Dalam kesempatan yang lain Allah SWT menyatakan bahwa manusia adalah makhluk yang serba salah, suka berkeluh kesah, serta kikir. Ketika manusia ditimpa kesusahan manusia itu mengeluh, meratap dan bahkan terkadang sampai mengatakan bahwa Allah itu tidak adil terhadap makhluk-NYA. Tetapi ketika manusia itu mendapatkan kebaikan dan kebahagiaan mereka sangatlah kikir dan pelit. Allah SWT menggambarkan manusia seperti ini di dalam QS. Al Ma’arij ; 19-21
إن الإنسن خلق هلوعا إذا مسه الشر جزوعا وإذا مسه الخير منوعا
Artinya :   Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia  ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir,




Imam Al Qurthubi, di dalam kitab tafsirnyanya “ Al Jami’ li Ahkamil Quran “, mengatakan bahwa yang dimaksud dengan keluh kesah adalah rasa tidak sabar ketika berada dalam kebaikan maupun ketika berada dalam kesusahan, sehingga ketika seseorang berada dalam kesusahan dan kesulitan orang itu akan melakukan hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan yang dilarang oleh Allah SWT. Begitupun sebaliknya ketika seseorang itu berada dalam kebaikan ia juga akan melakukan hal-hal yang seharusnya tidak ia lakukan yang dilarang oleh Allah SWT.. Selanjutnya, Imam Tsa’lab menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan keluh kesah adalah jika seseorang ditimpa kesulitan/kesusahan orang itu sangat menampakkan kesusahan dan kesulitannya, sebaliknya ketika orang itu diberikan kebaikan (dlm bentuk apapun, baik berupa kekayaan, kesehatan, panjang umur dan kesempatan), orang itu enggan dan tidak mau memberikan hak-hak orang lain yang ada padanya, seperti shadaqah, infaq dan ibadah-ibadah yang lainnya. Rasaulullah SAW. bersabda :
شَرُّ مَا أُعْطِيَ الْعَبْدُ  :شَحٌّ هَالِعٌ وَجُبْنٌ خَالِعٌ
Artinya :   Sepaling buruk apa yang diberikan Allah kepada seorang hamba adalah sifat kikir, pelit dan selalu gelisah, serta sifat takut kepada sesuatu yang memisahkannya.

Hadirin, jama’ah Shalat Jum’at Rohimakumullah.
Mudah-mudahan kita termasuk orang yang sabar dalam menerima segala cobaan, tidak terus bekeluh kesah serta selalu menjalankan apa yang diperintahkan oleh Allah. Dan ketika kita diberikan kenikmatan oleh Allah SWT. kita juga dijadikan sebagai orang yang sabar, yaitu dengan cara memberikan infaq, shadaqah, jariyah dan amal-amal yang lainnya.
أعوذ بالله من الشيطان الرجيم, بسم الله الرحمن الرحيم:
فإن مع العسر يسرا إن مع العسر يسرا فإذا فرغت فانصب وإلى ربك فارغب
Artinya :  Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.

KRITERIA PEMIMPIN


بسـم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله الذي بعث نبينا محمدا صلى الله عليه وسلم رحمة للأنام, واختصه بشـريعة سمحة مشتملة على الحكم والأحـكام. أشهد أن لا اله إلا الله وحده لا شـريك له الملك القدوس السـلام, وأشهد أن سيدنا محمدا عبده ورسوله أفضل الأنام ومصبـاح الظلام. اللهم فصل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى اله وأصحابه أهل الصدق والكـرام.
أما بعد. فيآ أيها الناس ! اوصيكم ونفسي بتقوى الله, واتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا و أنتم مسلمون.
قال الله تعالى في محكم تنـزيله وهو أصدق القآئلين, أعوذ بالله من الشيطان الرجيم, بسم الله الرحمن الرحيم:هوالله الذي لآإله إلاهو الملك القدوس السـلم المؤمن المهيمن العزيز الجبار المتكبر سبحن الله عما يشركون (الحشر : 23)

Ma’asyiral muslimin, rahimakumullah ….
            Di dalam Al Quran surat Al Ahzab ayat 72, Allagh Swt berfirman :
إنا عرضناالأمانة على السموت والأرض والجبال فأبين أن يحملنها وأشفقن منها وحملها الإنسن إنه كان ظلوما جهولا
Artinya: Sesungguhnya kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh (QS. Al Ahzab;72)

            Yang dimaksud dengan kata Amanat pada yang terdapat pada ayat di atas, dijelaskan oleh Imam Qurtubi di dalam tafsirnya Al Jami’ al Ahkam al Quran adalah tugas-tugas, baik tugas-tugas keagamaan maupun tugas-tugas kemanusiaan yang lainnya. Ketika Allah Swt menawarkan amanat tersebut kepada bumi, langit dan gunung-gunung semuanya menolak amanat tersebut karena takut dan khawatir tidak akan mampu menjalankan dan melaksanakannya. Akan tetapi, ketika amanat itu disodorkan kepada manusia, maka dengan senang hati manusia itu menerimanya. Sehingga pada akhir ayat di atas Allah Swt menyatakan bahwa manusia itu merupakan makhluk yang amat zalim dan bodoh, karena mau menerima amanat yang cukup berat tersebut.
Hadhirin, jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah ….
Akhir-akhir ini banyak sekali orang yang mengharapkan dirinya menjadi pemimpin, pejabat, penguasa atau apapun nama dan istilahnnya. Pada umumnya orang melihat posisi pemimipin adalah hanya sebagai sebuah kedudukan yang terkhormat atau sebuah posisi yang asyik dan menyenangkan. Akibatnya banyak orang yang mengejar untuk menjadi seorang pemimpin yang bahkan adakalanya sampai menghalalkan berbagai macam cara untuk mencapai tujuannya tersebut. Mulai dari yang membeli kedudukan dengan uang, menjilat atasan, menyikut pesaing atau teman atau dengan cara-cara lainnya. Yang penting tujuan tersebut bisa diraih. Mereka sepertinya tidak menyadari atau barangkali lupa, bahwa sekecil apapun jabatan dan tingkatannya, yang namanya pemimpin, pejabat, penguasa pasti akan dimintakan pertanggungjawabannya di hadapan Allah Swt. kelak di akhirat.
Rasulullah Saw bersabda:
كُلُّـكُمْ رَاعٍ وَكُلُّـكُمْ مَسْـئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ. فَاْلإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئوُلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ.
Artinya: “Kamu semua adalah penjaga, dan kamu semua akan dimintakan pertanggungjawabannya atas sesuatu yang dijaganya. Seorang imam (pemimpin) adalah penjaga/penggembala dan kelak akan dimintakan pertanggungjawabannya atas rakyatnya. (HR. Bukhari-Muslim- dari Ibnu Umar)
                   
Ma’asyiral muslimin, rahimakumullah ….
            Jika kita berbicara tentang pemimpin atau kepemimpinan atau jabatan atau apapun namanya ada baiknya kita simak sebuah peristiwa yang dikisahkan oleh Abu Musa Radliallahu ‘anhu. Abu Musa Radliallahu ‘anhu berkata :”Aku dan dua orang laki-laki dari kaumku pernah datang menemui Rasulullah Saw. Kemudian salah seorang dari keduanya berkata: ”Wahai Rasulullah, angkatlah kami sebagai pemimpin”. Kemudian teman yang satunya lagipun meminta hal yang sama kepada Rasulullah. Setelah mendengar permintaan kedua orang tersebut Rasulullah Saw. kemudian bersabda :
إِناَّ لاَ نُوَلّي هَذَا مَنْ سَـأَلَهُ وَلاَ مَنْ حَرَصَ عَلَيْهِ
Artinya : “Kami tidak akan menyerahkan kepemimpinan ini kepada orang yang memintanya dan tidak pula kepada orang yang berambisi untuk mendapatkannya”. (HR. Bukhari)

            Inti dari maksud hadits di atas adalah bahwa orang yang memangku jabatan karena permintaannya maka urusan orang tersebut akan diserahkan kepada dirinya sendiri dan tidak akan ditolong oleh Allah Swt. Rasulullah pernah bersabda kepada Abdurrahman bin Samurah: “Bila engkau diberi tanpa memintanya niscaya engkau akan ditolong oleh Allah Swt. dengan diberi taufik kepada kebenaran. Namun sebaliknya jika diserahkan kepadamu sebuah jabatan karena permintaanmu niscaya seluruh urusan dan tanggungjawab akan dibebankan penuh kepadamu.”
Ma’asyiral muslimin, jama’ah Jum’at  rahimakumullah ….
            Ada sebagian masyarakat yang mengatakan bahwa boleh meminta jabatan dan kedudukan. Mereka menggunakan dalil tentang kisah Nabi Yusuf As. yang pernah meminta jabatan sebagai bendaharawan kerajan kepada penguasa Mesir pada saat itu. Hal ini seperti yang dikisahkan di dalam Al Quran surat Yusuf ayat 55 yang berbunyi:
قال اجعلنى على خزآئن الأرض إنى حفيظ عليم
Artinya: "Jadikanlah Aku bendaharawan negara (Mesir); Sesungguhnya Aku adalah orang yang pandai menjaga, lagi berpengetahuan".
            Dalam menanggapi ayat di atas, pengarang kitab Tafsir Al Karimirrahman mengatakan bahwa, permintaan Nabi Yusuf As. ini bukan karena ambisi ataupun keinginan pribadi beliau untuk memegang jabatan sebagai bendahara kerajaan. Namun permintaan beliau untuk dijadikan sebagai bendahawan negara karena semata untuk memberikan kemanfaatan kepada manusia secara umum dan beliau melihat bahwa dirinya memang memiliki kemampuan, mempunyai kapasitas dan kapabilitas serta kecakapan untuk memangku jabatan tersebut. Selanjutnya Imam Asy Syaukani dalam kitabnya Nailul Authar dalam mengomentari ayat di atas mengatakan bahwa: Nabi Yusuf As. meminta jabatan tersebut karena adanya kepercayaan, adanya dorongan, dan adanya dukungan dari para nabi yang nota bene (yang pasti dan nyata) para nabi terebut merupakan orang-orang yang ma’shum (orang-orang yang terpelihara dari hal-hal yang dilarang oleh Allah Swt). Para nabi yang ma’shum tersebut memberikan kepaercayaan kepada Nabi Yusuf As. yang juga sebagai seorang nabi, seorang yang ma’shum. Lebih jelasnya adalah mempercayakan kepercayaan, mempercayakan amanat dan tanggungjawab kepada orang yang terpercaya dan bertanggungjawab.

Ma’asyiral muslimin, jama’ah Jum’at  rahimakumullah ….
Pada masa sekarang ini ada baiknya kita belajar tentang bagaimana caranya kita untuk mencari seorang pemimpin, seorang pejabat, penguasa atau apapun nama dan istilahnnya. Di dalam QS. Al Hasyr ; 22 Allah swt berfirnan:
هوالله الذي لآإله إلاهو الملك القدوس السـلم المؤمن المهيمن العزيز الجبار المتكبر سبحن الله عما يشركون (الحشر : 23)
Artinya :  Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, raja, yang Maha suci, yang Maha Sejahtera, yang Mengaruniakan Keamanan, yang Maha Memelihara, yang Maha Perkasa, yang Maha Kuasa, yang memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.
Dari ayat di atas kita dapat mengambil pelajaran bahwa seorang pemimpin, raja, pejabat, penguasa atau apapun nama dan istilahnnya haruslah memiliki sifat Al Quddus, suci. Dalam arti orang tersebut memiliki budi pekerti yang baik, akhlak yang baik, keilmuan yang baik, perbuatan yang baik. Jika seorang pemimpin sudah memiliki sifat ini maka akan terciptalah As Salam, ia akan mampu memberikan kesejahteraan bagi masyarakat atau orang yang dipimpinnya. Setelah sifat As Salam, setelah masyarakat yang pimpinnya sejahtera maka akan tercipta Al Mu,min, keamanan dan ketenangan.
Hadirin, Jama’ah Juma’t yang dimuliakan Allah ….
                Mudah-mudahan para pemimpin kita di negeri ini nanti, mulai dari yang terrendah sampai yang tertinggi, mulai dari pemimpin di tingkat daerah sampai tingkat pusat adalah para pemimipin yang selalu mendapat petunjuk dan tuntunan dari Allah Swt, pemimpin yang amanah, pemimpin yang melaksanakan keadilan, pemimpin yang mencintai dan dicintai, pemimpin yang dapat memberikan kesejahteraan, keselamatan dan dapat memberikan rasa aman kepada masyarakatnya. Amin Ya Robbal ‘alamin.
أعوذ بالله من الشيطان الرجيم, بسم الله الرحمن الرحيم:
إن الله يأمركم أن تؤدوا الأمنت إلى أهلها وإذا حكمتم بين الناس أن تحكموا بالعدل إن الله نعما يعظكم به إن الله كان سميعا بصيرا
Artinya:  Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat.

KHALIFAH PERTAMA


KRONOLOGIS TERPILIHNYA ADAM MENJADI KHALIFAH
الحمد لله الذي له ما فى السموات والأرض, وله الحمد فى الآخرة وهو الحكيم الخبير. أشهد أن لآ إله الا الله وحده لا شريك له, له الملك و له الحمد وهو على كل شيئ قدير, وأشهد أن محمدا عبده ورسوله البشير النذير و السراج المنير. اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وأصحابه أجمعين, أما بعد. فيآ أيها الناس ! اوصيكم ونفسي بتقوى الله, واتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا و أنتم مسلمون. أعوذ بالله من الشيطان الرجيم, بسم الله الرحمن الرحيم:
وإذقال ربك للملآئكة إني جاعل فى الأرض خليفة قالوا أتجعل فيها من يفسد فيها ويسفك الدمآء ونحن نسبح بحمدك ونقدسلك قال إني أعلم مالا تعلمون
Hadirin sidang Jum’at yang dimuliakan Allah ….
Di dalam kitab suci Al Quran kita jumpai dua kata yang berbeda namum memiliki arti yang hampir sama, yaitu kata “Imam”, dan kata “Khalifah”. Kedua kata tersebut memilik arti yang sama yaitu pemimpin. Pemimpin dalam ibadah ritual oleh Allah Swt. digunakan kata imam, seperti imam dalam ibadah shalat. Selanjutnya kata “imam” berkembang maknanya menjadi pelopor, pioneer, dan perintis. Seperti ayat Al Quran (QS.Al Furqon;74) yang berbentuk do’a yang diajarkan oleh Rasulullah Saw.
ربنا هب لنا من أزوجنا وذريتنا قرة أعين واجعلنا للمتقين إماما
Artinya: Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami, dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.

Kemudian, Al Quran juga menggunakan kata “khalifah”, yang dapat berarti pengelola, penanggungjawab, atau juga pemimpin, yang selanjutnya kata khalifah ini berkembang maknanya menjadi wakil atau asisten.
            Sebelum kita membahas surat Al Baqarah ayat 30 di atas, maka kita harus lihat terlebih dahulu ayat sebelumnya yang menjelaskan bahwa bumi dan isinya diciptakan oleh Allah Swt. untuk manusia. Di satu sisi Allah Swt. tidak menjelmakan Dzat-Nya  di muka bumi ini, sementara di sisi yang lain bumi yang diciptakan Allah Swt. ini perlu ada yang mengelola dan mengaturnya, maka untuk mengelola dan sebagai penanggungjawab ditunjuklah makhluk ciptaan-Nya yang bernama manusia. Dari sinilah maksud kata khalifah yang diabadikan oleh Allah Swt. yang terdapat di dalam QS. Al Baqarah ; 30 tadi.
Hadirin sidang Jum’at yang dimuliakan Allah ….
            Menurut ayat yang terdapat di dalam surat QS. Al Baqarah ayat 30 di atas Allah Swt. telah mengajarkan kepada kita cara yang baik untuk mencari calon seorang pemimpin.
1. Dilaksananakan dengan cara demokratis.
            Dalam proses pengangkatan seorang khalifah di bumi, sebenarnya Allah Swt. bisa saja menunjuk dan mengangkat seorang makhluknya secara langsung dan tanpa musyawarah dengan malaikat. Tanpa musyawarah sekalipun semuanya akan berlangsung beres, karena Allah Swt. Maha Kuasa dan Maha Perkasa, serta Allah Swt. tidak membutuhkan bantuan dari manapun. Namun dalam hal ini Allah Swt terlebih dahulu memberitahukan rencana-Nya kepada malaikat yang juga makhluk ciptaan-Nya dengan firman-Nya:
إني جاعل فى الأرض خليفة
Artinya : “Sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang khalifah di muka bumi”

 Di sinilah terletak kebijaksanaan dan demokratisnya Allah Swt.
2. Dilaksananakan dalam suasana keterbukaan.
Dari bunyi ayat di atas terlihatlah suasana dialog yang penuh dengan keterbukaan antara Allah Swt. sebagai Pencipta dengan makhluk ciptaan-Nya yang bernama malaikat. Ketika malaikat mendengar bahwa Allah Swt. akan mengangkat Adam sebagai khalifah maka secara spontan malaikat itu bereaksi dengan mendiskreditkan (mengecilkan) lawan politiknya yaitu Adam.             Dan malaikat itu membanggakan dirinya sambil mengungkapkan prestasinya yang selalu tunduk dan patuh kepada Allah Swt. dengan mengatakan :
قالوا أتجعل فيها من يفسد فيها ويسفك الدمآء ونحن نسبح بحمدك ونقدس لك
Artinya: “ Mengapa Engkau hendak menjadikan (khlaifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya, dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?”.

Mendengar sikap keberatan yang dilontarkan oleh para malaikat tersebut dijawab oleh Allah Swt. dengan jawaban yang sangat bijaksana, yaitu dengan mengatakan:
إنى أعلم مالا تعلمون
Artinya: ” Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui “.


Di sini Allah Swt kembali mengajarkan kepada kita bahwa yang ditonjolkan dalam mencari seorang pemimpin adalah kapasitas ilmu seseorang. Padalah Allah Swt. bisa saja mengatakan kepada para malaikat, “ Sesungguhnya Aku lebih berkuasa dari kalian semua “.
Hadirin sidang Jum’at yang dimuliakan Allah ….
            3. Uji Wawasan (Fit and Propertest)
            Ketika ada indikasi bahwa malaikatpun ingin menjadi khalifah, maka Allah Swt membekali kedua makhluk ciptaan-Nya (malaikat dan Adam) dengan berbagai macam informasi mengenai seluk beluk daerah/lokasi yang akan dipimpinnya, dengan firman-Nya:
وعلم آدم الأسمآء كلها ثم عرضهم على الملآئكة
Artinya: “ Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat”.

 Setelah Allah Swt. menginformasikan berbagai macam informasi, kemudian Allah Swt. menguji  kemampuan wawasan dan intelektual keduanya. Allah Swt. memberikan kehormatan pertama kepada para malaikat untuk menyampaikan program kerjanya jika kelak menjadi khalifah dengan firman-Nya:
فقال أنبئونى بأسمآء هؤلآء إن كنتم صدقين. قالوا سبحانك لاعلم لنآ إلا ماعلمتنآ إنك أنت العليم الحكيم
Artinya: “ Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang bernar. Mereka menjawab, Maha Suci Engkau tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami kepada kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.           

Selanjutnya Allah Swt. memberikan kesempatan kepada Adam untuk menyampaikan wawasan dan intelektualnya, dengan firman-Nya:
قال يآادم أنبئهم بأسمآئهم, فلمآ أنبئهم بأسمآئهم قال الم أقل لكم إنى أعلم غيب السموت والأرض وأعلم ماتبدون وماكنتم تكتمون
Artinya: “ Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini. Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman; Bukankah sudah Ku katakan kepadamu bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan.”

           


Demi menyambut kesuksesan Adam, Allah Swt. memerintahkan kepada seluruh malaikat untuk sujud kepada Adam sebagai penghormatan sebagai pemimpin baru di tempat yang baru. Maka bersujudlah seluruh malaikat kecuali iblis yang enggan dan angkuh karena merasa lebih hebat dan lebih mulia dari Adam.
Hadirin sidang Jum’at yang dimuliakan Allah ….
            Sudah kita ketahui bersama bahwa saat ini bangsa Indonesia sedang diramaikan dengan proses pemilihan calon anggota dewan perwakilan rakyat. Sebagian besar rakyat Indonesia sedang berusaha mencari-cari siapa yang akan mewakilinya dan dapat menyalurkan aspirasinya di lembaga yang terhormat nanti. Baik di tingkat pusat, wilayah (propinsi), sampai pada tingkat daerah (kabupaten/kota). Dari uraian tentang QS. Al Baqarah ; 30-34 tadi, setidaknya kita dapat mangambil kesimpulan dan pelajaran bahwa untuk mencari seorang pemimpin (khalifah, pengatur, wakil atau asisten) ada beberapa hal yang harus kita perhatikan.
  1. Seorang yang akan menjadi pemimpin haruslah orang-orang yang shaleh (orang-orang yang memiliki akhlak yang baik. Baik akhlak kepada Allah Swt maupun akhlak kepada manusia).
  2. Seorang yang akan menjadi pemimpin haruslah seseorang yang mempunyai keahlian dalam bidangnya serta mempunyai ilmu dan wawasan yang mumpuni, karena untuk mengelola dan mengatur masyarakat yang sangat beragam ini diperlukan ilmu pengetahuan dan pengalaman yang tidak sedikit. Kekuatan otak lebih diutamakan daripada kekuatan otot dan kekuatan materi. Rasulullah bersabda :
  3. Bahwa kriteria yang dibuat oleh manusia untuk menetapkan seorang pemimpin tidak menjamin akan dapat membawa kedamaian dunia dan kemakmuran rakyat, malah mungkin sebaliknya. Kerusakan alam kian menjadi, pertumpahan darah tak kunjung berhenti, karena dunia ini dikendalikan oleh orang yang salah bukan oleh orang yang saleh.
  4. Bahwa pemimpin yang hanya berilmu saja, tetapi tidak shaleh hanya akan menciptakan orang-orang yang pintar yang tukang plintir.
أعوذ بالله من الشيطان الرجيم, بسم الله الرحمن الرحيم:
يآايهاالذين امنوا لاتخونوا الله والرسول وتخونوا امنتكم وأنتم تعلمون
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan       janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedangkan kamu mengetahui.